Upacara Pemakaman Rambu Solo di Toraja.


 Yunendra Icha Nuraini.

29 Agustus 2021.


Arjuna!? Salam sastra! 

Halo, sobat arjuna! Apa kabar? Semoga selalu sehat dan tetap semangat menghadapi pandemi ini. Nah, pada kesempatan kali ini kita akan membahas salah satu upacara adat yang cukup unik dari Toraja. Simak selengkapnya, Sob!

Indonesia memiliki berbagai macam budaya dan tradisi pemakaman  yang begitu unik. Salah satunya adalah upacara rambu solo yang dilaksanakan masyarakat Toraja. Masyarakat Toraja percaya tanpa upacara rambu solo, arwah orang yang meninggal akan memberi kemalangan bagi orang orang yang ditinggalkannya.

Rambu solo sendiri adalah upacara kedukaan dengan berbagai ikatan adat yang rumit dan membutuhkan biaya yang cukup banyak. Persiapannya pun membutuhkan waktu yang cukup panjang selama berbulan bulan. Sementara menunggu persiapan, tubuh orang yang meninggal akan dibalut dengan kain dan disimpan di atas rumah leluhur atau tongkonan. Selama jenazah disimpan di atas rumah, jenazah dianggap belum meninggal. Hanya dianggap orang sakit atau tertidur. Sehingga masih dilayani layaknya orang hidup pada umumnya sampai pada prosesi rambu solo awal.

Prosesi pertama disebut pemilangan, yaitu kain merah yang dipakai untuk menutup jenazah selama disimpan di atas rumah akan dibuka, begitu juga dengan peti jenazahnya. Setelah pemilangan ada prosesi yang disebut penganginan, yaitu jenazah di keluarkan dari peti untuk diangin-anginkan. Kemudian setelah penganginan, jenazah dibungkus dengan banyak lapisan kain sampai membentuk bulatan dan diakhiri dengan kain merah, prosesi ini disebut pembalunan. Lalu, peti yang digunakan untuk menyimpan jenazah itu dibawa ke suatu tempat dan dilakukan prosesi yang bernama lamunan ropi. Prosesi selanjutnya bernama pasurasan, yaitu mengukir balutan kain dengan jenis ukiran tertentu dan ditempel dengan ukiran-ukiran berwarna emas. Selanjutnya dilakukan prosesi papaturunan, yaitu jenazah diturunkan dari rumah kemudian diantar ke suatu tempat yang disebut tado paya.  Lalu, setelah papaturunan ada prosesi bernama pabatangan, yaitu penerimaan tamu. Selanjutnya, ada prosesi pebabaran, bisa dibilang sebagai acara puncak  dimana  golongan bangsawan harus menyiapkan 24 hingga 100 ekor kerbau untuk dipotong sebagai kurban (Ma’tinggoro Tedong). Sedangkan untuk golongan menengah wajib menyiapkan 8 ekor kerbau dan 50 ekor babi. Kemudian keluarga bersepakat ada alosala, yaitu tidak melakukan apa-apa. Terakhir ada profesi pelamunan, dimana jenazah diantar ke tempat peristirahatan terakhirnya yang disebut dengan alang-alang, yaitu kuburan keluarga.

Nah, itu tadi merupakan serangkaian prosesi upacara pemakaman rambu solo di Toraja sobat. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi kalian semua ya.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kunto Aji & Nadin Amizah, Suara dan Makna dalam "Selaras".

Sinopsis Antares, Film Series Yang Diangkat dari Novel Wattpad

Yuk Cari Tahu Lebih Jauh tentang Kartini!