Eksploitasi Banyak Terjadi, Kemakmuran Dicari

Kayla Aura Sakinadhia Irstiadi

7 Juli 2021


Arjuna?! Salam sastra! 

     Halo, sobat arjuna! Bagaimana keadaan kalian ditengah kasus COVID-19 yang kian memuncak? Kali ini bukan sang corona yang akan kita bahas, tetapi kita akan berbicara bersama tentang eksploitasi SDA yang tak kunjung reda. 

     Seharusnya pemanfaatan SDA ini mampu membuat Indonesia menjadi lebih makmur seperti yang tertulis pada pasal 33 Ayat (3) dimana bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. 

Namun nyatanya apa? Kemiskinan masih tercecer dimana- mana dan sedikitnya lapangan pekerjaan masih menghantui setiap tahunnya. Lalu bentuk kemakmuran seperti apa yang dituliskan pada UU pasal 33 ayat (3) tersebut?

     Mari kita ulas sedikit tentang bagaimana mereka mengambil hak sang Ibu Pertiwi. Seperti yang terjadi pada bumi Papua yang telah dikuasai oleh PT. Freeport milik negeri Paman Sam ini. Pertambangan emas dan tembaga itu mampu merubah gunung menjadi danau. Pantas saja rakyat Papua ingin memisahkan diri, sebab mereka telah dibodohkan secara sosial, ekonomi, dan kultural. 

     Sebagai daerah penghasil emas, tanah Papua mampu memberi keuntungan US$ 19 juta atau sekitar Rp 114 miliar per hari untuk PT Freeport Indonesia, yang sudah beroperasi selama 44 tahun di Papua. Lebih dari 2, 6 juta hektare lahan sudah dieksploitasi, termasuk 119.435 hektare kawasan hutan lindung dan 1,7 juta hektare kawasan hutan konservasi. 

     Tidak hanya itu saja, banyak perusahaan asing yang melirik tanah surga milik kita ini. Seperti yang baru-baru ini menjadi pembicaraan bahwa perusahaan Tambang Mas Sangihe (TMS) telah mengantongi izin lingkungan dan izin usaha produksi pertambangan emas seluas 42.000 hektare izin wilayah yang meliputi setengah bagian selatan Pulau Sangihe, termasuk di dalamnya adalah Gunung Purba seluas lebih dari 3.500 hektare tempat habitat Seriwang Sangihe sang burung endemik Pulau Sangihe. 

Banyak warga yang protes, seperti seorang ibu rumah tangga, Elbi Pieter. Dia membayangkan jika perusahaan tambang beroperasi di tanah kelahirannya maka air laut akan tercemar, air minum menjadi beracun, perkebunan, dan perbukitan lenyap, serta mata pencaharian penduduk yang mayoritas nelayan akan hilang.

     Entah apa yang akan terjadi pada Bumi Pertiwi jika eksploitasi ini terus berlanjut. Mereka yang saat ini menguras habis semua yang ada di dalamnya telah dibutakan oleh pundian uang didepan mereka. Rakyat yang seharusnya disambut hangat oleh kemakmuran malah menjadi korban. 

Bukan kekayaan yang didapat oleh masyarakatnya tetapi kerusakan alam yang nyata. Inikah kemakmuran yang tertulis itu? Semoga kita sebagai generasi sang Ibu Pertiwi mampu menggapai cita-cita kemakmuran yang telah tertulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kunto Aji & Nadin Amizah, Suara dan Makna dalam "Selaras".

Sinopsis Antares, Film Series Yang Diangkat dari Novel Wattpad

Yuk Cari Tahu Lebih Jauh tentang Kartini!