(Belum) Puas Menikmati Libur Akhir Tahun, Sudah Siap KBM Tatap Muka?
Moshaddeq Freudy Nurudin
30 Desember 2020
Liburan akhir semester merupakan momen spesial yang selalu saya nantikan. Semenjak jadi bocah SD ingusan sampai jadi perjaka yang selalu dibilang mirip bapak-bapak, saya paling antusias dengan yang namanya libur akhir semester. Berlibur di rumah Simbah atau Bude merupakan target saya untuk mengisi liburan ini. Tapi, semua berubah gegara si Corona. Liburan akhir semester yang sebelumnya adalah momen sakral bagi saya, berubah jadi hari-hari biasa.
Bagaimana tidak biasa-biasa saja? Wong saya sudah menjalani PJJ selama hampir 10 bulan yang saya anggap sebagai liburan, tentunya kami para siswa juga b aja kalo dikasih pengumuman liburan yang hakiki. Ini sih sama aja kayak hari-hari sebelumnya, cuma tanpa tugas dan absen di Microsoft Teams.
Pagi ini saya dikejutkan dengan notifikasi grup whatsapp sirkel belajar saya. Grup yang tengah berhibernasi dari berbagai kesibukan mulai dari tanya-jawab tugas PJJ sampai sharing jawaban PAS kemarin, tiba-tiba dikejutkan dengan sebuah pesan yang kurang lebih seperti ini:
“R U ready kids?” sembari menyematkan gambar. Gambar masih blur karena fitur unduh otomatis media saya matikan (percayalah, hanya boomer yang masih ngaktifin fitur ini). Rupanya gambar tadi berisi foto Surat Pernyataan Orang Tua/Wali Murid. Mak degg!! Mata saya terbelalak. Saya scroll lagi kebawah, rupanya ini surat pernyataan orang tua/wali murid Bekasi, bukan Karanganyar. Fyuh, alhamdulillah.
Saya yang mengharapkan KBM tahun depan masih dilaksanakan secara daring, sedikit merenung. Bagi anak yang orang tuanya mungkin over-protective atau paranoid dengan Covid-19 mungkin masih bisa tenang. Suratnya tinggal di-checklist bagian tidak setuju, tempel materai, tanda tangan, selesai. Lah Ibu saya justru malah mendukung 2021 KBM tatap muka. Disinilah kemampuan diplomasi dan negosiasi saya diuji untuk mempersuasi Ibu saya agar memilih tidak setuju.
Hal
yang mungkin akan terjadi jika saya mengikuti proses KBM tatap muka adalah
kaget. Ya, kaget. Butuh waktu untuk menyesuaikan. Lagi-lagi, embel-embel new
normal kembali digaungkan untuk melegitimasi KBM tatap muka ini. Hal berikutnya
yang saya takutkan adalah berjumpa dengan guru killer yang disiplin. Pertama, saya sangat khawatir
jika kelak ditanyai mengenai buku catatan semester ganjil. Kedua, duduk
sendirian dalam satu meja yang berjauhan dengan rekan lain bukanlah suatu yang
lumrah dalam budaya kita. Bayangkan kalau kamu tiba-tiba diberondong pertanyaan
yang sama sekali tidak kalian ketahui jawabnya sebab semester lalu kalian cuma
rebahan. Kalian tidak bisa tanya teman satu meja kalian sebab duduk sendiri.
Mau buka google tapi perkewuh. Sungguh
mimpi buruk.


Komentar
Posting Komentar