Penyakit Depresi

Halo Sobat Arjuna! Salam Sastra!

Depresi adalah suatu kondisi medis berupa perasaan sedih yang berdampak negatif terhadap pikiran, tindakan, perasaan, dan kesehatan mental seseorang. Umumnya seseorang yang sedang mengalami depresi umumnya mengalami perasaan sedih, cemas, atau kosong. Depresi (gangguan depresi mayor) adalah penyakit medis umum dan serius yang memengaruhi secara negatif perasaan penderita, cara penderita berpikir, dan cara penderita bertindak. Depresi dapat menyerang kapan saja, tetapi rata-rata, pertama kali muncul pada akhir remaja hingga pertengahan 20-an. Wanita lebih cenderung mengalami depresi daripada pria.

Untuk menyimpulkan apakah kita mengalami depresi atau tidak, kita harus terlebih dahulu menganal gejala-gejala depresi. Adapun gejala - gejala seseorang mengalami depresi sebagai berikut.

Gejala psikis:
1. Perasaan sedih mendalam dan konstan.
2. Mudah marah dan tersinggung.
3. Kehilangan minat dalam segala hal.
4. Pesimis, putus asa dan merasa tidak berharga.
5. Sulit berkonsentrasi, mengingat sesuatu dan mengambil keputusan.
6. Selalu menyalahkan diri sendiri.
7.  Apatis (merasa acuh tak acuh atau kurang emosi)
8. Berpikir untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain.
9. Berpikir untuk melakukan percobaan pembunuhan terhadap diri sendiri atau orang lain.

Gejala fisik:
1. Kelelahan.
2. Agitasi psikomotor, gelisah nampak mengulangi aktivitas yang tidak berguna.
3. Retardasi psikomotor, melambatnya gerakan, berpikir dan berucap.
4. Insomnia atau hipersomnia.
5. Sakit kepala dan nyeri (nyeri punggung, tengkuk, persendian, dada dan lainnya).
6. Penurunan berat badan atau bertambahnya berat badan.
7. Nafsu makan hilang atau justru meningkat.
8. Terganggunya siklus menstruasi pada wanita.

Seseorang dapat dikatakan depresi apabila mengalami lima atau lebih dari gejala-gejala di atas (baik psikis maupun fisik) dan terjadi secara persisten setidaknya selama 2 minggu, hingga mengganggu aktivitas sehari-hari maupun hubungan dengan orang-orang disekitarnya.

Hal-hal yang dapat memicu seseorang mengalami depresi antara lain
1. Mengalami peristiwa traumatis atau tekanan batin.
Contoh peristiwa atau kejadian yang dapat memicu depresi adalah penyiksaan, adanya     masalah dalam persahabatan, keluarga, dll
2. Memiliki penyakit kronis atau penyakit yang serius.
Depresi juga dapat muncul ketika seseorang memiliki penyakit kronis seperti kanker, stroke,dll. Maka dari itu, seseorang yang mengalami penyakit kronis perlu mendapat dukungan lebih dari orang- orang terdekatnya.
3. Ketergantungan pada alkohol dan narkoba.
Biasanya seseorang mengkonsumsi alkohol atau narkoba untuk melarikan diri dari masalah. Namun, hal ini dapat memicu seseorang mengalami depresi.

Beberapa faktor yang berperan dalam depresi:
a) Biokimia: Perbedaan bahan kimia tertentu di otak dapat berkontribusi pada gejala depresi.
b) Genetika: Depresi dapat terjadi dalam keluarga. Sebagai contoh, jika satu kembar identik mengalami depresi, yang lain memiliki kemungkinan 70 persen untuk menderita suatu penyakit dalam kehidupan.
c) Kepribadian: Orang-orang dengan harga diri rendah, yang mudah diliputi oleh stres, atau yang umumnya pesimistis tampaknya lebih mungkin mengalami depresi.
d) Faktor lingkungan: Paparan terus menerus terhadap kekerasan, penelantaran, pelecehan atau kemiskinan dapat membuat beberapa orang lebih rentan terhadap depresi.

Upaya yang dapat kita lakukan untuk mencegah terjadinya depresi antara lain
1. Obat
Kimia otak dapat berkontribusi pada depresi seseorang dan dapat menjadi faktor dalam perawatan mereka. Untuk alasan ini, antidepresan mungkin diresepkan untuk membantu memodifikasi kimia otak seseorang. Obat-obatan ini bukan obat penenang, "bagian atas" atau obat penenang. Mereka tidak membentuk kebiasaan. Umumnya obat antidepresan tidak memiliki efek merangsang pada orang yang tidak mengalami depresi.
2. Psikoterapi
Psikoterapi, atau "terapi bicara", kadang-kadang digunakan sendiri untuk pengobatan depresi ringan; untuk depresi sedang hingga berat, psikoterapi sering digunakan bersamaan dengan obat antidepresan. Terapi perilaku kognitif (CBT) telah terbukti efektif dalam mengobati depresi. CBT adalah bentuk terapi yang berfokus pada masa kini dan pemecahan masalah. CBT membantu seseorang untuk mengenali pemikiran yang menyimpang dan kemudian mengubah perilaku dan pemikiran.
3. Terapi Elektrokonvulsif (ECT)
Perawatan medis yang paling umum digunakan untuk pasien dengan depresi berat parah atau gangguan bipolar yang belum menanggapi perawatan lain. Ini melibatkan stimulasi listrik singkat pada otak ketika pasien berada di bawah anestesi. Seorang pasien biasanya menerima ECT dua hingga tiga kali seminggu untuk total enam hingga 12 perawatan. ECT telah digunakan sejak tahun 1940-an, dan penelitian bertahun-tahun telah menghasilkan perbaikan besar. Biasanya dikelola oleh tim profesional medis yang terlatih termasuk psikiater, ahli anestesi dan perawat atau asisten dokter.

ARJUNA?!?! SALAM SASTRA!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kunto Aji & Nadin Amizah, Suara dan Makna dalam "Selaras".

Sinopsis Antares, Film Series Yang Diangkat dari Novel Wattpad

Yuk Cari Tahu Lebih Jauh tentang Kartini!