Cerpen Ruang Waktu yang Hampa


Halo sobat Arjuna!
Salam sastra?!
Kembali lagi dengan kita bersama sebuah cerpen. Ikuti alur ceritanya ya sob, semoga bermanfaat :)

Ruang Waktu Yang Hampa
Di ufuk timur antara hamparan pegunungan dan pohon perdu. Perlahan tapi pasti, muncul sinar dahsyat, sang mentari sumber penghidupan  di bumi. Sedangkan tubuhku masih terbengkalai oleh selimut dan bantal-bantal. Matapun masih terbungkam dalam kantuk. Detik demi detik terus berjalan berputar pada jam dinding. Rasa malas begitu menghantui. Apalagi di hari ini, hari Senin. hari di mana ada pelajaran ekonomi, kimia, serta fisika yang menjadi makanan setiap awal pekan.

Suara nyanyian nyaring bunda mulai terdengar tanda aku harus bangun segera. Kuucap doa dan berfikiran positif untuk hari ini. Memang sebenarnya semua tak lagi sama. Tidak seperti kemarin-kemarin. Aku berusaha memahami bahwa tidak ada yang hilang dari hidupku. Namun hati ini terus berbisik seakan ia mengetahui segalanya. Apadaya pikiranku belum sampai pada hal itu. Akan kucoba menenangkan diri dengan menyeruput segelas susu yang belum pasti kutelan. Lanjut  memohon doa restu orang tua, ucap doa, serta salam untuk menimba ilmu menjemput masa depan.

Sesampainya di sekolah, kupaksakan senyum ini merekah lebar menyapa teman-teman. Perlahan aku melewati parkiran sepeda. Rasa yang sama seperti apa yang aku rasakan di rumah tadi.
“Selamat pagi Viola.” Suara khas dari Azhar. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Sempat terkejut mendengar sapaan tersebut. Padahal tidak biasanya Azhar berani menyapaku dulu, paling hanya tatap muka atau bahkan senyum. Karena mungkin ia berpikir bahwa aku sudah ada yang memiliki dan ia tidak berhak atas diriku. Azhar merupakan siswa terkeren se SMA. Ia masuk jurusan IPA walaupun sebenarnya ia adalah anak yang pintar.

Setelah menaruh tas di kelas, aku duduk di kursi panjang depan kelas sembari melihat para siswa yang lalu lalang di halaman sekolah.
“Hai Vi, kok sendiri saja mana si Rendi?” tanya Sela kepadaku. Rendi merupakan sahabatku dari SMP. Walaupun banyak yang bilang aku dan Rendi itu pacaran. Padahal kita hanya sahabatan.
“Entah nihh.. biasanya juga berangkatnya dia dulu daripada aku” jawabku dengan nada rendah.
“Tunggu saja, pasti dia masih di jalan, karena biasanya hari Senin kan macet.” Jawab Sela yang berusaha menenangkanku.
“Assalamualaikum, Dek kelas 10 IPA 3 itu mana ya?” datanglah seorang perempuan setengah baya yang menanyakan hal itu kepada Sela.
“Ohh itu Bu, kelas sebelah. Masuk saja Bu, sudah banyak siswanya kok” jawab Sela sembari menunjuk kelas dengan telunjuknya.
“Ada yang bisa saya bantu Bu? Ibu mau cari siapa?” sahutku seketika sebelum ibu itu melangkah menuju kelas.
“Begini dek, ini ibu diberi amanat dari ibunya dek Rendi untuk memberikan surat ini ke sekolah” jawab ibu itu dengan tergesa.
“Ohh Rendi, itu teman saya bu. Memangnya itu surat apa ya Bu? Boleh saya yang memberikan ke teman sekelasnya?” tanya ku
“Surat izin Dek. Oh iya ini suratnya, ibu minta tolong berikan ke teman sekelasnya ya, sebelumnya terimakasih Dek” kata ibu itu sambil memberikan surat izin itu padaku dan seketika ibu itu pergi mungkin ia sedang terburu-buru.
“Rendi sakit apa Vi, kok dia tidak masuk sekolah?” tanya Sela
“Aku tidak tahu, Rendi tidak bilang apa-apa ke aku” jawabku dengan penuh tanda tanya
“TANG TING TUNGGGG.......” suara bel masuk yang bergema. Dengan segera aku memberikan surat ini kepada teman sekelasnya Rendi dan akupun masuk ke kelasku sendiri.

 Saat pelajaran berlangsung, hatiku tidak karuan memfikirkan apa yang terjadi pada Rendi. Mengapa dia tidak memberi tahuku. Apa mungkin aku sudah tidak dianggap penting lagi bagi dia. Ahh sudahlah, dalam hatiku berkata seperti itu. Kebisingan kelas tidak lagi aku hiraukan. Apalagi suara pak guru mengajar ekonomi bagaikan angin ribut yang membawa pasir di padang pasir berkelana. Tak sadar aku sedang melamun memikirkan hal itu.

Istirahat pertama telah tiba. Dengan segera aku pergi ke kelas Rendi dan menanyakan apa yang terjadi pada Rendi.
“Ali, Rendi sakit apa? Mengapa dia tidak masuk sekolah?” tanyaku dengan penuh kekhawatiran.
“Looh bukannya Rendi baru ada acara di Bandung ya,” jawab Ali heran
“Acara di Bandung? memangnya acara apa? Kok aku tidak di kasih tahu” tanya ku sambil menatap mata Ali dalam-dalam.
“Aku kemarin diberi tahu bahwa dia tidak masuk selama seminggu  karena dia ada acara di Bandung dengan keluarganya, tetapi aku tidak tahu acara apa itu,” “ Lagian tadi di surat izinnya juga dengan alasan yang sama seperti apa yang Rendi bilang kemarin itu” jelas Ali dengan penuh perasaan, mungkin dia tahu apa yang aku rasakan.

Rasa kecewa yang amat terdalam. Baru kali ini aku merasakan kekecewaan dari seorang sahabat yang aku sayangi. Aku tidak habis pikir dengan dia. Mengapa dia tega meninggalkan ku selama seminggu tanpa pamit. Rasanya ingin membenci tapi tidak tega. Ingin melepaskan tapi takut kehilangan. Bagaimana mungkin aku bisa terbiasa tanpa dia jika biasanya aku dan Rendi itu selalu bersama, setiap hari pasti ada cerita dari kita berdua, setiap hari saling curhat, saling mengeluh, saling memberi semangat. Tetapi apa yang terjadi oleh semua ini. Haruskah aku menahannya hingga satu minggu lamanya. Kurasa itu tak sanggup.

“Vii ayo ke kantin!” ajak Dea bersama beberapa teman sekelasku.
“Ayo Vi ikut kita, jangan sampai kamu sedih hanya karena tidak ada Rendi. Buktikan kamu bisa bahagia tanpa dia” kata Sela dengan semangat
“Okelah teman, aku ikut kalian,” jawabku pasrah. Aku pun beranjak pergi ke kantin dengan mereka. Sesampainya di kantin, banyak juga yang jajan di kantin itu. Aku melihat Azhar dan teman-temanya duduk di pojok belakang. Sepertinya dia juga melihatku dengan aneh, langsung aku membuang muka dari tatapan dia.  Aku berfikir harus menyendiri untuk beberapa waktu agar kekecewaanku tidak membuat sedih teman-teman.
“Maaf teman, aku izin ke toilet sebentar ya, kalian pesan makanan dulu saja, nanti aku bisa pesan sendiri,” kataku sambil melirik ke arah Azhar saat dia sedang melahap makanan.

Aku duduk termenung sendiri di lapangan bawah sambil berteduh, melihat hamparan sawah hijau yang baru ditanam. Sejujurnya aku masih memfikirkan sikap Rendi kepadaku. Aku rindu tapi aku kecewa. Aku ingin ketemu tapi dia jauh.
“Apa yang kamu lakukan di sini sendirian Viola?” tiba-tiba Azhar datang sendirian dengan mengajukan pertanyaan yang tak bisa kujawab tersebut.
“Ehh emm Azhar” jawabku terkejut.
“Kamu sedih? Ayolah cerita! aku bisa menggantikan posisi Rendi di pandanganmu” ucap Azhar dengan sok baiknya.
“Kamu tahu kalau Rendi sedang ada di luar kota?” tanyaku
“Iya, dia menitipkan kamu padaku Vi,” jawabnya
Namun aku tak percaya akan hal itu. Rendi pasti cemburu jika aku dekat dengan Azhar.
“Tidak, terimakasih” kataku
“Aku tidak ingin kamu dekat-dekat dengan aku lagi,” lanjutku sambil meninggalkan Azhar.

Empat hari berlalu dalam hidupku, hampa rasanya tidak ada sahabat yang senantiasa mendengarkan curahan hatiku. Tempat di sekolah tidak ada yang berbeda. Waktu pun juga tidak jauh berbeda. Begitu membosankan dalam satu minggu ini. Sedangkan ini baru empat hari, masih ada tiga hari lagi. Aku tidak sabar untuk Rendi kembali. Aku ingin mendengarkan ceritanya, walaupun sebenarnya aku sangat kecewa. Tunggu saja, jalani hari-harimu dengan sahabat dan teman  yang lain. Begitu kata hatiku.

Aku kembali duduk di kursi panjang depan kelas, seperti yang biasanya aku lakukan setiap pagi.
“Halo, selamat pagi cantik,” sapaan tersebut menggetarkan hati ku. Iya itu suara khas dari Rendi. Tetapi aku belum berani menolehnya karena mungkin hanya perasaanku saja sebab aku rindu.
“Maafkan aku, ini hadiah untukmu” jelasnya sambil memberikan sebua benda berbentuk kubus.
“Rendiiiii!...” teriakku dengan nada setengah marah dan setengah rindu sambil menatapnya dalam-dalam.
“Iya aku Rendi, kamu rindu? Maaf ya aku tinggal sebentar. Ada tugas dari ayah soalnya.” kata Rendi
“kamu jahat, kenapa kamu tidak bilang? Tolong jelaskan lagi, agar kekecewaanku tidak bertambah” kata ku dengan marah.
“Jadi begini, aku ada acara sama ayah di Bandung itupun terburu-buru jadi aku tidak sempat pamit ke kamu Vi. Dan aku juga berencana mau kasih hadiah buat kamu pada hari keempat kamu rindu aku hehe,” jawabnya dengan gemas
“Lantas kenapa di surat izin kamu tidak mauk satu minggu?” tanyaku
“Sebab aku di sana juga rindu kamu, aku tidak betah lama-lama di sana, aku ingin cepat mendengarkan cerita dari suaramu yang unik itu,” jawabnya yang semakin membuat aku gemas
“Ahhh kamu menyebalkan, terimakasih untuk hadiahnya,” jawabku dengan senyuman sambil memfokuskan mata ke arah hadiah yang diberikan Rendi untukku.

Akhirnya kita bersama lagi, akan ada banyak cerita yang menghiasi pertemuan kita. Semangat untuk belajar kembali mengkobar. Senyuman matahari ikut terpancar seperti apa yang aku rasakan Kamis pagi ini. Aku sangat bahagia dengan kembalinya Rendi beserta hadiahnya. Canda tawa teman-teman yang lainnya membuatku semakin menyejukkan hati. Saat bel masuk bergema, selamat menggapai masa depan merupakan kata yang selalu Rendi ucapkan untukku. Mungkin itu yang membuat kita semangat.

Selesai sudah masa-masa hampaku yang berlangsung empat hari ini. Aku tanpa sahabat bagaikan tak berarti apa-apa. Ini merupakan hadiah terbesarku, ya hadiah seorang sahabat yang kembali ke pelukanku. Aku sangat bersyukur memiliki dia, percayalah Tuhan menciptakan ini semua untuk disyukuri. Membuat orang lain bahagia itu lebih membahagiakan dari segalanya. Jagalah dan pertahankan sebuah persahabatan. Karena sejatinya semua teman belum tentu menjadi sahabat tetapi seorang sahabat pasti menjadi teman, menjadi keluarga, dan itu adalah teman yang terbaik dari teman yang lainnya.











Komentar


  1. ingin mendapatkan uang banyak dengan cara cepat ayo segera bergabung dengan kami di f4n5p0k3r
    Promo Fans**poker saat ini :
    - Bonus Freechips 5.000 - 10.000 setiap hari (1 hari dibagikan 1 kali) hanya dengan minimal deposit 50.000 dan minimal deposit 100.000 ke atas
    - Bonus Cashback 0.5% dibagikan Setiap Senin
    - Bonus Referal 20% Seumur Hidup dibagikan Setiap Kamis
    Ayo di tunggu apa lagi Segera bergabung ya, di tunggu lo ^.^

    BalasHapus
  2. ♠♥🃏WAKANDA POKER🃏♦♣

    AGEN POKER ONLINE INDONESIA AMAN DAN TERPERCAYA
    DENGAN RATING KEMENANGAN DAN KESEMPATAN UNTUK MENDAPATKAN JACKPOT YANG TINGGI.
    RATUSAN RIBU ORANG TELAH BERMAIN DI WEBSITE INI, BERANIKAH ANDA MENGALAHKANNYA?
    DENGAN MINIMAL DEPOSIT 10.000 KALIAN SUDAH MEMAINKAN 7 PERMAINAN DALAM 1 AKUN YAITU
    ⏩TEXAS POKER
    ⏩DOMINO
    ⏩CEME
    ⏩CEME KELILING
    ⏩CAPSA SUSUN
    ⏩OMAHA
    ⏩SUPER 10
    WAKANDA POKER JUGA MEMPUNYAI BANYAK PROMO BESAR SAAT INI:
    💲BONUS DEPOSIT PERDANA
    💲BONUS TURNOVER 0.3%
    💲BONUS REFERRAL 10% SEUMUR HIDUP
    💲BONUS JACKPOT TOTAL PULUHAN JUTA RUPIAH
    KAMI JUGA AKAN MEMUDAHKAN ANDA UNTUK PEMBUATAN ID DENGAN REGISTRASI SECARA GRATIS MASIH ADA KELEBIHA LAINNYA :
    ✅MINILAM DP & WD SEBESAR HANYA Rp 10.000
    ✅NO SYSTEM ROBOT!!! 💯% PLAYER VS PLAYER
    ✅BISA DI AKSES VIA Android/IPhone/IPad
    ✅PROSES DP & WD YANG SANGAT CEPAT
    ✅PELAYANAN DENGAN CS PROFESIONAL & RAMAH 24 JAM

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kunto Aji & Nadin Amizah, Suara dan Makna dalam "Selaras".

Sinopsis Antares, Film Series Yang Diangkat dari Novel Wattpad

Yuk Cari Tahu Lebih Jauh tentang Kartini!